Dino Menilai Pujian Kepada Infrastruktur Dinilai Terlalu Berlebihan

Breaking News60 Dilihat

Singkawang, Kalbar – TransTV45.com || Pembangunan infrastruktur atau fasilitas publik oleh kepala daerah seringkali disambut dengan pujian setinggi langit. Namun, kita perlu menempatkan apresiasi tersebut secara proporsional. Rabu (14/01/2026)

Dino mengatakan kepada awak media ini, Ketika seorang Kepala daerah membangun jalan, jembatan, atau sekolah, ia sebenarnya sedang menjalankan kewajiban konstitusional.
Pembangunan tersebut dibiayai oleh uang pajak rakyat, bukan dari kantong pribadi sang pemimpin.

Memuji kepala daerah secara berlebihan karena membangun fasilitas publik ibarat memuji matahari karena ia terbit di pagi hari—itu sudah menjadi fungsinya.

Bayangkan Anda pergi ke sebuah restoran. Anda memesan makanan, lalu pelayan mengantarkan pesanan tersebut tepat ke meja Anda. Apakah Anda akan bersujud syukur atau membuat pesta perayaan karena pelayan tersebut membawakan makanan Anda? Tentu tidak. Anda cukup berterima kasih, karena memang itulah tugasnya setelah Anda membayar.

Jika makanan yang datang salah atau dingin, barulah Anda melayangkan komplain. Begitu pula dengan kepala daerah; pembangunan adalah “pesanan” rakyat yang sudah dibayar melalui pajak.

Dalam ilmu politik, terdapat teori Kontrak Sosial (Socials Contract) yang dipopulerkan oleh pemikir seperti Jean-Jacques Rousseau.

Teori ini menjelaskan bahwa rakyat menyerahkan sebagian hak dan mandatnya kepada pemimpin agar pemimpin tersebut mengelola sumber daya demi kesejahteraan bersama Pelajari Teori Kontrak Sosial.

Jadi, pembangunan bukanlah “hadiah” dari pemimpin kepada rakyat,melainkan pelunasan janji atas kontrak yang telah disepakati saat pemilihan.

Mengapa Harus Tetap Kritis?
Tugas utama warga negara dalam demokrasi bukanlah menjadi pemandu sorak (cheerleader), melainkan menjadi pengawas.

Jika kita terlalu sibuk memuji hal-hal yang sudah seharusnya dilakukan, kita akan kehilangan ketajaman untuk melihat apa yang belum dikerjakan, mana anggaran yang bocor, atau kebijakan mana yang tidak tepat sasaran dan penyalahgunaan wewenang.

Kritik bukanlah tanda kebencian, melainkan bentuk kepedulian agar kualitas pembangunan terus meningkat dan tidak berhenti pada standar yang minimal. Ujar Dino

(Sumber:Dino)

(Editor: Suparman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *