Singkawang, Kalbar – TransTV45.com || Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di bawah naungan Yayasan Sinar Cahaya Khatulistiwa memberikan klarifikasi resmi terkait insiden keracunan makanan yang menimpa sejumlah siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Singkawang. Klarifikasi tersebut disampaikan dalam jumpa pers yang digelar di Café Nordu, Sabtu (07/02/2026).
Kepala Regional SPPG Wilayah Kalbar, Agus Kurniawi, secara terbuka menyampaikan permohonan maaf yang mendalam atas musibah tersebut. Ia menegaskan bahwa pihaknya bertanggung jawab penuh dan berkomitmen melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
“Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan operasional, kami akan mengunjungi para siswa yang menjadi korban serta menanggung seluruh biaya perawatan medis mereka,” ujar Agus di hadapan awak media.
Hal itu dipertegas kembali oleh Devi Riska selaku perwakilan yayasan Sinar Cahaya Khatulistiwa dan Anisa Nur Afifah selaku Mitra SPPG wilayah singkawang Tengah
“Kami akan menanggung sepenuhnya biaya pengobatan sebagai bentuk tanggung jawab kami”, ujar Anisa.
*Faktor Operasional dan Keterlambatan Distribusi*
Kepala SPPG Wilayah Singkawang Tengah, Maulidi Ikhsan, menjelaskan bahwa berdasarkan investigasi internal, insiden dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini murni disebabkan oleh kelalaian operasional.
Dugaan sementara mengarah pada kesalahan prosedur pengemasan (packaging). Ikhsan menjelaskan bahwa makanan yang masih dalam kondisi panas langsung ditutup rapat di dalam wadah (ompreng). Hal ini memicu timbulnya uap panas yang terperangkap dan menciptakan endapan air, sehingga mempercepat proses pembusukan makanan.
“Kelalaian ini terjadi tanpa unsur kesengajaan. Tim di lapangan terburu-buru mengejar waktu distribusi agar makanan sampai tepat waktu. Selain itu, terdapat jeda waktu konsumsi yang cukup lama; makanan diantar pukul 10.00 WIB, namun baru disantap siswa setelah salat Zuhur,” jelas Ikhsan.
Meski indikasi awal mengarah pada kesalahan pengemasan, pihak SPPG tetap menunggu hasil resmi dari otoritas kesehatan. “Untuk memastikan penyebab pastinya secara ilmiah, kami masih menunggu hasil uji laboratorium dari tingkat provinsi,” tutupnya.
(Sumber:DS)
(Editor:Suparman)





