Singkawang, Kalbar – TransTV45.com || Jika pers adalah pilar keempat demokrasi, maka jurnalis yang memilih “berlindung di ketiak penguasa” adalah rayap yang sedang meruntuhkan bangunan itu dari dalam. Fenomena ini bukan lagi sekadar kedekatan sumber, melainkan pergeseran peran yang menjijikkan dari algojo penjaga menjadi kacung yang terpasung.
Pelacuran Intelektual dan Matinya Independensi
Dino Santana Wakil ketua DPD IWO.Indonesia Kota Singkawang menyampaikan, Pasal 1 Kode etik jurnalistik, dengan tegas mewajibkan wartawan untuk bersikap independen.
Namun, realitas di lapangan seringkali berkata lain, banyak ruang redaksi kini menjelma menjadi perpanjangan tangan humas pemerintah. Fakta tidak lagi disajikan apa adanya, melainkan “dimasak” sedemikian rupa agar tidak menyinggung perasaan sang penguasa.
Ini adalah bentuk pelacuran intelektual. Ketika wartawan lebih bangga berfoto di kursi kekuasaan daripada berdiri di baris terdepan membela hak publik untuk tahu, mereka telah mengkhianati amanat undang-undang pers.
Kedekatan yang terlalu intim dengan otoritas bukan hanya merusak objektivitas, tetapi juga mematikan daya kritis yang menjadi syarat mutlak jurnalisme bermartabat. Jelasnya
Berlindung di Balik “Ketiak” yang Hangat
Mengapa banyak yang memilih berlindung di ketiak penguasa? Jawabannya sederhana: keamanan dan kenyamanan. Di bawah naungan kekuasaan, jurnalis mendapatkan akses eksklusif, fasilitas, hingga perlindungan dari jerat hukum yang sering dipakai untuk membungkam pers kritis.
Bahaya bagi Demokrasi
Demokrasi yang sehat memerlukan kritik, bukan pembungkaman atau pemujaan. Saat media gagal menjalankan fungsi kontrol sosialnya, korupsi dan kesewenang-wenangan akan tumbuh subur di kegelapan karena cahaya pers telah dipadamkan oleh mereka sendiri.
Masyarakat tidak butuh wartawan yang sekadar menjadi mouthpiece (corong) kebijakan. Masyarakat butuh kebenaran, seburuk apa pun itu. Ketika pers memilih menjadi “pelayan” penguasa, publik akan kehilangan kepercayaan dan beralih ke sumber informasi yang liar dan tak terverifikasi, yang pada akhirnya memicu perpecahan sosial.
Wartawan yang berlindung di ketiak penguasa mungkin mendapatkan rasa aman sesaat, namun mereka kehilangan kehormatan selamanya. Sudah saatnya komunitas pers kembali ke khitah: menjaga jarak yang waras dari kekuasaan.
Insan pers bukan pemandu sorak yang sibuk bertepuk tangan di ruang-ruang VIP kekuasaan
Jika pena sudah tumpul karena sering menggaruk punggung penguasa, maka pers tak lebih dari sekadar tumpukan kertas tanpa jiwa. Jelasnya.
(Sumber : DS)
(Editor: Suparman)





