Hari Pertama MBG Pasca Libur Ramadan di Singkawang Diwarnai Keluhan Menu Berbuka di Duga nilai Tak Sebanding Pagu Anggaran.

Berita155 Dilihat

Singkawang, Kalbar – TransTV45.com || 23 Februari 2026, Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada hari pertama setelah libur awal Ramadan di Kota Singkawang memicu gelombang kekecewaan.

Kalangan orang tua siswa dan tenaga pendidik menilai kualitas menu yang dibagikan untuk berbuka puasa jauh di bawah standar kecukupan gizi dan tidak mencerminkan alokasi anggaran yang telah ditetapkan pemerintah.

Berdasarkan pantauan di sejumlah sekolah, paket menu yang diterima siswa didapati sangat minimalis, yang hanya terdiri dari:
Satu butir telur rebus
Satu buah jeruk atau pisang
Satu lembar roti tawar
Satu lembar keju sachet atau satu kotak susu

Kondisi ini memicu reaksi kekecewaan dari wali murid. “Kami kecewa dengan kualitas menu hari ini. Jika dihitung secara kasar dengan harga pasar, paket berisi telur, jeruk, dan roti keju itu nilainya mungkin hanya sekitar Rp6.000 hingga Rp6.500. Padahal, anak-anak membutuhkan nutrisi yang jauh lebih lengkap untuk memulihkan energi setelah seharian berpuasa,” ujar salah satu orang tua murid di sebuah Sekolah Dasar di Kecamatan Singkawang Utara.

Keluhan serupa juga membanjiri media sosial. Sejumlah netizen mengunggah foto menu MBG dengan porsi yang memprihatinkan, seperti tambahan tempe goreng atau kacang tanah goreng yang dianggap tidak memenuhi standar gizi “Generasi Emas”.

Sorotan Terhadap Integritas Anggaran
Polemik ini memunculkan pertanyaan besar mengenai integritas pengelolaan anggaran di lapangan. Pasalnya, berdasarkan Keputusan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nomor 63 Tahun 2025, pemerintah telah menetapkan rincian pagu anggaran per porsi yang cukup memadai, yaitu:
1.Pagu Umum: Rata-rata sebesar Rp10.000 per porsi per anak per hari.
2.Pagu Berjenjang:
Rp10.000/porsi: Untuk ibu hamil, menyusui, serta sebagian siswa SD dan SMP.
Rp8.000/porsi: Untuk anak balita, PAUD, dan siswa SD kelas rendah (target 350 kalori).
Munculnya menu yang dianggap “seadanya” ini menjadi sinyal merah bagi pengawasan distribusi dan standarisasi vendor di Kota Singkawang.

Selisih antara nilai riil makanan yang diterima siswa dengan pagu anggaran yang ditetapkan memicu dugaan adanya ketidakpatuhan pihak penyedia jasa (vendor).

Program Makan Bergizi Gratis adalah pilar strategis nasional. Kejadian pada hari pertama Ramadan ini harus menjadi bahan evaluasi mendalam bagi Pemerintah Kota Singkawang dan instansi terkait.

Pemerintah diharapkan tidak hanya terpaku pada aturan di atas kertas, tetapi wajib memastikan setiap rupiah anggaran bertransformasi menjadi nutrisi nyata di piring para siswa.

(Sumber: Santana)

(Editor: Suparman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *