Pengelola SPPG Minta Maaf serta utarakan Dugaan Penyebab Kejadian Viral Gangguan Pencernaan MBG di Sidikalang.

Berita, Daerah548 Dilihat

SIDIKALANG- TransTV45.com// Pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jalan Palapa-Sidikalang, yang menjadi mitra Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menyampaikan permohonan maaf secara terbuka di hadapan para insan Pers atas insiden dugaan gangguan pencernaan makanan yang menimpa sejumlah siswa SMK HKBP Sidikalang.

Pemilik SPPG, Delphi Masdiana Ujung di dampingi suami PA Simatupang, mengaku prihatin yang sedalam-dalamnya atas peristiwa tersebut yang menyebabkan beberapa pelajar harus menjalani perawatan medis sebab adanya gangguan dibagian saluran pencernaan. Ia menegaskan bahwa pihaknya tetap berkomitmen menjalankan operasional dapur sesuai standar yang berlaku dan lebih memberikan pengawasan extra waspada tentang pengelolaan dan penyajiannya kepada Penerima Manfaat (PM).

Menurutnya, seluruh proses produksi makanan telah mengikuti regulasi dan ketentuan dari Badan Gizi Nasional (BGN), mulai dari pengolahan bahan baku yang hygiens, proses memasak serta kebersihan dapur, hingga pemenuhan standar gizi.

“Seluruh proses sudah kami jalankan sesuai standar operasional prosedur (SOP). Para relawan juga bekerja berdasarkan petunjuk teknis yang berlaku,” ujarnya kepada awak media, Jumat (27/2/2026).

Terkait temuan kontaminasi bakteri berdasarkan hasil uji laboratorium dari Laboratorium Kesehatan Daerah Sumatera Utara, pihak SPPG langsung melakukan evaluasi internal untuk menelusuri penyebab kejadian.

Berdasarkan hasil evaluasi sementara, gangguan kesehatan hanya dialami pelajar tingkat SMK. Sementara siswa TK, SD, dan SMP yang menerima menu serupa dilaporkan tidak ada yang mengalami keluhan tentang gangguan dibagian saluran pencernaan.

Delphi menjelaskan, seluruh menu dimasak pada pagi hari. Makanan untuk TK, SD, dan SMP langsung didistribusikan setelah dimasak dan dikemas menggunakan ompreng berbahan stainless steel. Adapun untuk pelajar SMK, pendistribusian dilakukan sekitar pukul 11.00.

Setibanya di sekolah, makanan diperiksa terlebih dahulu oleh guru penerima dan disertai tanda terima sebagai bukti bahwa menu dalam kondisi baik dan layak konsumsi. Bahkan, saat penjemputan kembali ompreng sekitar pukul 14.00, tidak terdapat komplain dari pihak sekolah. Sejumlah siswa juga turut membantu mengangkat wadah makanan ke mobil pengangkut.

Namun demikian, pihak SPPG menduga jeda waktu antara proses memasak dan waktu konsumsi menjadi salah satu faktor yang memungkinkan berkembangnya bakteri. Selain itu, ditemukan informasi bahwa makanan yang dibagikan pada hari Senin ada juga siswa yang kost dari luar Dairi atau dari Kecamatan lain di Dairi masih juga mengonsumsi kembali sebagai sarapan pagi pada hari berikutnya.

“Hal seperti ini tentunya sudah di luar jangkauan dapur SPPG. Meski begitu, kami tetap melakukan evaluasi secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang kembali” tegasnya.

Sebagai langkah pencegahan, pihak SPPG mengimbau agar makanan MBG segera dikonsumsi setibanya di sekolah dan tidak dibawa pulang demi menjaga kualitas serta keamanannya.

Siswa juga diminta lebih cermat sebelum mengonsumsi makanan dan segera melapor apabila ditemukan perubahan aroma, rasa, atau bentuk. Guru pun diharapkan berperan aktif dalam mengawasi waktu makan agar tetap tepat waktu dan hygienis.

Delphi menegaskan bahwa keterangan yang disampaikannya bukan untuk mencari pihak yang salah atau benar, melainkan sebagai bentuk transparansi dan evaluasi bersama.

“Kami ingin ini menjadi pembelajaran agar program pemerintah dapat berjalan dengan baik dan benar-benar memberikan manfaat bagi para siswa,” pungkasnya.

Keterangan foto : Delphi Masdiana Ujung memberikan keterangan pers.
(D.HAMS)//

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *