
TANJUNG JABUNG BARAT, JAMBI – TranTV45.com|| – Sebuah persoalan rumah tangga yang semula berlangsung di ruang privat kini menjadi sorotan publik setelah berujung pada laporan dugaan pencurian sepeda motor yang menyeret nama seorang perempuan bernama Rahmadona. Peristiwa tersebut tidak hanya memasuki ranah hukum, tetapi juga memicu polemik sosial yang menurut pengakuannya telah berdampak pada kehidupan pribadi, pekerjaan, hingga reputasinya di tengah masyarakat.
Awal mula persoalan mencuat ketika Rahmadona menerima surat undangan wawancara tertulis dari Unit Reskrim Polsek Tebing Tinggi. Surat tersebut berkaitan dengan laporan pengaduan yang diajukan oleh seorang pria bernama Ismatullah alias Pais terkait dugaan pencurian sepeda motor.
Mendapat panggilan tersebut, Rahmadona mengaku terkejut dan tidak menyangka dirinya harus memberikan klarifikasi atas tuduhan yang menurutnya tidak pernah ia lakukan.
“Saya benar-benar kaget ketika menerima surat panggilan itu. Saya merasa tidak pernah mengambil ataupun berniat menguasai kendaraan milik siapa pun. Karena itu saya ingin persoalan ini dilihat secara utuh dan objektif,” ujar Rahmadona saat ditemui awak media.
Menurut pengakuannya, pelapor merupakan suami hasil pernikahan siri yang selama ini menjalin hubungan rumah tangga dengannya. Namun, hubungan tersebut disebut mulai mengalami keretakan setelah Pais tidak lagi tinggal bersama dalam kurun waktu yang cukup lama.
Rahmadona menuturkan bahwa suaminya sempat menyampaikan alasan tidak pulang karena harus mengurus anak kandungnya yang sedang sakit. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, komunikasi antara keduanya disebut semakin renggang hingga tidak ada kejelasan mengenai keberadaan maupun kepulangan sang suami.
“Sebagai seorang istri, saya hanya ingin tahu keberadaannya. Wajar jika saya bertanya karena dia tidak pulang-pulang ke rumah. Tetapi setiap kali ditanya, tidak pernah ada jawaban yang jelas,” ungkapnya.
Kondisi tersebut, lanjut Rahmadona, membuat dirinya merasa kecewa dan kehilangan kepastian dalam rumah tangga yang mereka jalani. Bahkan ia mengaku sempat meminta perceraian karena merasa hubungan tersebut tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya.
Meski demikian, menurut pengakuannya, setelah itu tidak pernah terjadi pertengkaran besar ataupun pertemuan langsung yang menunjukkan adanya konflik terbuka antara dirinya dan Pais.
Yang membuatnya semakin heran, kata Rahmadona, adalah ketika persoalan rumah tangga tersebut kemudian berkembang menjadi laporan dugaan pencurian sepeda motor.
Ia menjelaskan bahwa kendaraan yang dipersoalkan saat ini bukanlah kendaraan yang diambil untuk dimiliki ataupun dikuasai. Menurut versinya, kendaraan tersebut hanya diamankan karena berada di luar rumah dan dikhawatirkan berisiko hilang.
“Saya tidak pernah berniat mencuri. Kalau kendaraan itu diamankan, semata-mata karena saya khawatir hilang. Tidak ada niat untuk memiliki atau menguasainya,” tegasnya.
Selain menghadapi persoalan hukum, Rahmadona juga mengaku mengalami tekanan sosial yang cukup berat. Ia menyebut namanya menjadi bahan pembicaraan di lingkungan sekitar dan bahkan muncul berbagai tuduhan yang menurutnya tidak berdasar.
Salah satu tuduhan yang paling menyakitkan, kata Rahmadona, adalah tudingan bahwa dirinya memiliki hubungan dengan ayah dari seorang anak perempuan yang disebut sebagai anak dari Pais.
Menurut Rahmadona, tuduhan tersebut sama sekali tidak benar dan telah mencoreng nama baiknya di tengah masyarakat.
“Saya merasa sangat dirugikan. Tuduhan itu tidak sesuai dengan kenyataan. Saya memiliki keluarga dan harga diri yang harus saya jaga,” katanya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa pada malam yang disebut-sebut dalam tuduhan tersebut, dirinya justru berada di sebuah rumah makan lesehan di wilayah Tebing Tinggi bersama anaknya. Tempat tersebut, menurutnya, ramai dikunjungi masyarakat sehingga keberadaannya dapat diketahui banyak orang.
Namun beberapa hari setelah peristiwa itu, berbagai informasi dan tuduhan terkait dirinya disebut mulai beredar di media sosial. Kondisi tersebut membuat tekanan yang dialaminya semakin besar.
Tidak hanya itu, Rahmadona mengaku dampak yang dirasakannya juga merembet ke dunia kerja. Ia menyatakan kehilangan pekerjaan di sebuah perusahaan tempat dirinya baru bekerja di wilayah Kelurahan Tebing Tinggi.
Menurutnya, kehilangan pekerjaan tersebut menjadi pukulan berat karena terjadi di tengah berbagai persoalan yang sedang dihadapinya.
“Saya merasa dirugikan secara sosial, secara moral, bahkan secara ekonomi. Nama baik saya dipertaruhkan dan pekerjaan saya pun hilang. Ini yang membuat saya sangat terpukul,” ujarnya dengan nada sedih.
Di tengah berbagai persoalan tersebut, Rahmadona berharap seluruh pihak dapat mengedepankan asas praduga tak bersalah serta memberikan ruang bagi proses hukum yang objektif dan transparan.
Ia bersama keluarga besarnya berharap aparat penegak hukum dapat mengusut seluruh persoalan secara profesional sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan.
“Kami hanya ingin keadilan. Kami ingin mengetahui di mana letak hukum yang sebenar-benarnya. Harapan kami sederhana, semua persoalan ini diproses secara adil, transparan, dan terang benderang,” tegas Rahmadona.
Kasus ini pun menjadi perhatian masyarakat setempat karena melibatkan persoalan rumah tangga yang kemudian berkembang ke ranah hukum dan sosial. Sejumlah warga berharap seluruh pihak dapat menahan diri serta tidak terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum adanya kepastian dari proses hukum yang berjalan.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pelapor Ismatullah alias Pais, pihak perusahaan yang disebut dalam keterangan Rahmadona, maupun aparat kepolisian yang menangani perkara tersebut belum memberikan pernyataan resmi terkait berbagai pengakuan yang disampaikan.
Media tetap membuka ruang hak jawab dan hak koreksi bagi seluruh pihak yang terkait guna menjaga prinsip keberimbangan, akurasi informasi, serta profesionalisme jurnalistik sesuai ketentuan yang berlaku.
Arifin





