
Kampar Riau, TransTV45.com ||Menindaklanjuti laporan masyarakat, tim media bersama LSM Yayasan Ringgala (Rimbawan Jenggala Alam) melakukan kunjungan langsung ke dapur MBG (SPPG) di Desa Muktisari, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Selasa (21/4/2026).
Kedatangan tim disambut oleh pihak dapur dan diarahkan untuk bertemu dengan Kepala SPPG, Agus. Dalam pertemuan tersebut, tim menyampaikan sejumlah keluhan masyarakat, khususnya terkait dugaan persoalan limbah, penggunaan gas LPG 3 kilogram, serta isu kecelakaan kerja.
Agus selaku Kepala SPPG tidak menampik bahwa pihaknya sempat mengalami kendala. Ia mengakui dapur MBG tersebut pernah mendapat sanksi operasional selama kurang lebih satu minggu.
“Benar, pada waktu itu kami sempat terkena sanksi, Karena ada kendala pembuatan IPAL,
Namun saat ini limbah atau sampah yang dikeluhkan masyarakat sudah kami bersihkan, seperti yang bapak-bapak lihat langsung di lapangan,” ujarnya.
Terkait penggunaan LPG 3 kilogram yang menjadi sorotan, Agus menjelaskan bahwa hal tersebut dilakukan dalam kondisi mendesak, biasanya kami selalu pakai gas LPG 12kg
“Pada saat itu kondisinya sangat urgen, sehingga kami agak memaksakan untuk menggunakan LPG 3 kilogram biasanya kami selalu pakai gas LPG 12kg,” tambahnya.
Selain itu, pihak SPPG juga mengakui adanya insiden kecelakaan kerja yang dialami salah satu relawan. Sugiono, korban luka bakar, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada 7 April 2026 saat dirinya melakukan aktivitas pengeringan ompreng.
“Saat itu mungkin saya lalai ketika menyalakan api, tiba-tiba api menyambar dan mengenai badan saya. Tapi sekarang kondisi saya sudah membaik. Namanya juga kerja, pasti ada saja kendala.
Alhamdulillah, Penanganan cepat dilakukan oleh pihak dapur saat kejadian, disertai pemberian kompensasi kepada Saya, sebagai bentuk tanggung jawab.”ujar Sugiono
Di lokasi yang sama, perwakilan pemilik dapur MBG, yang diwakili oleh Bu Nyai (istri Gus Wahid), menyampaikan apresiasi atas kunjungan media dan LSM.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kunjungan ini. Kritik dan saran menjadi masukan berharga bagi kami. Insya Allah ke depan kami akan berbenah agar lebih baik,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Desa Muktisari, Waryono, membenarkan adanya informasi yang beredar di masyarakat terkait persoalan limbah dan kecelakaan kerja di dapur MBG. Namun, ia menyebutkan belum ada laporan resmi yang diterima pihak desa.
“Kami memang menerima informasi tersebut, tetapi sampai saat ini belum ada laporan resmi dari masyarakat. Kami berharap pengelola dapur MBG dapat bekerja sama dengan baik sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya.
Ketua Yayasan Ringgala, Mohammad Irwan, menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari fungsi kontrol sosial. Ia mengapresiasi keterbukaan pihak SPPG dalam menerima kunjungan dan memberikan akses informasi.
“Kami berterima kasih atas sambutan yang baik dan keterbukaan dari pihak SPPG. Harapan kami, dapur MBG di Desa Muktisari dapat terus berbenah agar berjalan sesuai standar. Kami juga mendorong agar terjalin kerja sama yang baik antara pengelola, media, dan LSM,” tegasnya.
Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun komunikasi yang konstruktif antara masyarakat, pengelola dapur MBG, serta pihak terkait, guna menciptakan pengelolaan yang lebih baik dan transparan ke depannya.**Tim





