
Pelalawan Riau, TransTV45.com ||Langkah itu bermula dari sebuah desa bernama Batu Bersurat, Kabupaten Kampar. Di sanalah Wahyu Trinanda Puteri dilahirkan pada 1 Januari 2004 dan tumbuh dalam balutan kental budaya Melayu yang membentuk jati dirinya. Kini, mahasiswi aktif Universitas Islam Riau angkatan 2022 jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan (Tari) itu berdiri di ambang panggung bergengsi: Grand Final Pemilihan Duta Pariwisata Riau 2026, dengan membawa nama Kabupaten Pelalawan di pundaknya.
Di balik senyum lembut dan gemulai gerak tari yang ia tampilkan, tersimpan kisah hidup yang tak sederhana. Wahyu tumbuh dalam asuhan sang ayah setelah kepergian ibunda tercinta. Namun kehilangan itu tak pernah mematahkan langkahnya. Ia justru menjadikannya sebagai kekuatan. Baginya, doa seorang ibu tak pernah benar-benar pergi—ia hidup, mengalir, dan menguatkan dari langit.
Perjalanan Wahyu di dunia pageant dimulai sejak 2022, saat ia memberanikan diri mengikuti ajang Z Face Zetizen Riau 2022 dan berhasil menembus TOP 50. Tak berhenti di sana, setahun kemudian ia kembali mengasah potensi dengan mengikuti Pemilihan Bujang Dara Pelalawan 2023. Hasilnya tak mengecewakan—ia masuk TOP 5 sekaligus meraih gelar 5th Place Dara Pelalawan 2023.
Tahun 2026 menjadi babak baru yang lebih besar. Melalui jalur umum, Wahyu berhasil lolos seleksi wawancara dan resmi menjadi finalis Duta Pariwisata Riau mewakili Kabupaten Pelalawan. Konsistensinya kembali terbukti dalam ajang Launching & Minat Bakat, di mana ia tampil memukau lewat perpaduan syair, lagu Melayu, dan tarian tradisional—membawanya masuk dalam TOP 3 Penampilan Minat Bakat Terbaik.
“Alhamdulillah, ini amanah besar. Saya ingin orang tidak hanya mengenal Riau dari istana atau Bono, tetapi juga dari syair yang dilantunkan, lagu yang dinyanyikan, dan tarian yang dihidupkan oleh anak mudanya,” ungkap Wahyu penuh harap.
Grand Final yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Mei 2026 akan menjadi panggung penentuan. Dengan segala persiapan dan pengalaman yang telah ditempanya, Wahyu optimistis mampu memberikan yang terbaik. Ia juga berharap adanya dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Pelalawan dan Dinas Pariwisata sebagai bentuk nyata keberpihakan terhadap generasi muda yang membawa nama daerah.
Bagi Wahyu, gelar Duta Pariwisata bukan sekadar mahkota atau selempang kehormatan. Lebih dari itu, ia adalah tanggung jawab—menjadi wajah, suara, sekaligus cerita hidup dari tanah kelahiran.
“Ini bukan hanya tentang saya. Ini tentang bagaimana kita memperkenalkan Pelalawan dan Riau dengan cara yang lebih hidup dan berbudaya. Dari kesederhanaan Batu Bersurat, dari ruang kelas di UIR, saya ingin dunia melihat Riau lebih dalam,” tutupnya.**Rilis





