
Kampar Riau, TransTV45.com ||Pemuda Kampar, Mhd Sanusi, melontarkan kritik keras terhadap pernyataan pemerintah yang mengancam mencabut izin pabrik kelapa sawit (PKS) yang membeli TBS petani di bawah harga yang ditetapkan. Menurutnya, ancaman tersebut tidak akan berarti apa-apa jika tidak dibarengi tindakan nyata dan transparan.
“Petani tidak bisa makan dari ancaman. Petani tidak bisa membayar pupuk dengan janji. Yang dibutuhkan rakyat hari ini adalah tindakan, bukan pernyataan yang berulang kali disampaikan ketika sorotan publik sedang tinggi,” tegas Sanusi.
Ia menilai persoalan harga sawit yang merugikan petani bukanlah masalah baru. Keluhan petani sudah bertahun-tahun terdengar, namun hingga kini masih banyak petani yang merasa tidak mendapatkan harga yang layak atas hasil kebunnya.
“Kalau memang pemerintah serius membela petani, tunjukkan siapa pabrik yang melanggar. Umumkan ke publik. Berikan sanksi. Cabut izinnya jika memang terbukti. Jangan sampai yang keras hanya pernyataannya, tetapi pelaksanaannya tidak pernah terlihat,” ujarnya.
Menurut Sanusi, masyarakat sudah terlalu sering mendengar narasi keberpihakan kepada petani, sementara kondisi di lapangan justru menunjukkan banyak petani yang semakin tertekan oleh biaya produksi yang tinggi dan harga jual yang tidak menentu.
“Rakyat sudah lelah dengan seremoni dan konferensi pers. Yang mereka rasakan hari ini adalah kebutuhan hidup yang terus naik, biaya pupuk yang mahal, sementara harga sawit sering kali tidak berpihak kepada mereka. Jangan tunggu kemarahan petani meledak baru pemerintah bergerak,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa petani sawit adalah salah satu penopang utama ekonomi daerah. Karena itu, negara tidak boleh kalah oleh kepentingan segelintir pihak yang diduga mengambil keuntungan di atas penderitaan petani.
“Jangan sampai negara terlihat gagah di atas podium, tetapi kehilangan keberanian saat berhadapan dengan pihak-pihak yang diduga merugikan petani. Jika benar ada pelanggaran, tindak. Jika tidak ada tindakan, publik berhak mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam melindungi rakyatnya sendiri.”
Sanusi menegaskan bahwa ukuran keberhasilan pemerintah bukanlah banyaknya ancaman yang disampaikan kepada publik, melainkan seberapa besar perubahan yang benar-benar dirasakan petani di lapangan.
“Hari ini petani tidak membutuhkan kata-kata yang indah. Mereka membutuhkan harga yang adil, perlindungan yang nyata, dan keberanian pemerintah untuk membuktikan bahwa negara masih berpihak kepada rakyat kecil. Selain itu, semua hanya akan terdengar sebagai slogan yang terus diulang setiap kali persoalan sawit kembali menjadi perhatian publik,” pungkasnya.**







