Di tengah hamparan bukit hijau dan udara sejuk khas dataran tinggi Desa Talang Tinggi, Kabupaten Kerinci, tinggallah Lexza, pemuda berusia 18 tahun yang tumbuh di tengah kesederhanaan hidup warga desa. Jauh dari hiruk-pikuk kota dan fasilitas olahraga lengkap, Lexza memiliki satu mimpi besar: menjadi atlet menembak yang bisa mengharumkan nama daerahnya, bahkan saat kesempatan itu datang di ajang resmi Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (PERBAKIN) tingkat Provinsi Jambi.
Sejak remaja, Lexza sudah tertarik pada ketelitian dan ketenangan yang dibutuhkan dalam olahraga menembak. Namun, menjadi anak kampung di Kerinci berarti harus berjuang keras melawan keterbatasan. Ia tidak memiliki senapan standar perlombaan, tidak ada pelatih tetap, dan jarak tempuh dari desanya ke pusat kabupaten saja memakan waktu berjam-jam di jalan yang kadang rusak parah saat musim hujan. Untuk berlatih, Lexza harus berkreasi: ia membuat sasaran dari kertas karton yang digambar lingkaran target, menggunakan senapan angin sederhana warisan ayahnya yang sudah berumur, dan berlatih di ladang kosong milik keluarganya setiap sore setelah selesai membantu orang tuanya bertani.
Bukan hanya fasilitas yang menjadi penghalang. Banyak orang di sekitarnya meragukan mimpinya. “Menembak itu olahraga mahal, Lexza. Orang desa mana bisa bersaing dengan anak-anak kota yang punya alat lengkap dan pelatih bagus,” begitu sering ia dengar. Bahkan keluarganya pun sempat khawatir mengingat biaya perjalanan dan perlengkapan yang tidak sedikit. Namun keraguan itu justru menjadi bahan bakar semangatnya. Lexza mencatat setiap teknik yang ia pelajari dari buku bekas atau petunjuk singkat dari petugas olahraga kecamatan yang jarang datang, lalu mempraktikkannya berulang kali—berdiri berjam-jam agar tangan stabil, melatih napas agar tenang, dan mengasah ketajaman mata membidik sasaran.
Ketika kabar seleksi atlet untuk mewakili Kabupaten Kerinci ke turnamen PERBAKIN Provinsi Jambi terdengar, Lexza tahu itu kesempatan emasnya. Ia mendaftar meski harus menabung berbulan-bulan dari hasil menjual hasil kebun untuk biaya perjalanan dan administrasi. Hari keberangkatan pun tiba, dan ia harus menempuh perjalanan panjang berjam-jam melewati jalan berkelok-kelok dan menanjak dari Kerinci ke Kota Jambi, dengan membawa peralatan seadanya dan tas sederhana berisi perlengkapan pribadi.
Sesampainya di lokasi latihan gabungan, tantangan baru menyapa. Lexza melihat peserta lain datang dengan senapan canggih, perlengkapan lengkap, dan sudah terbiasa dengan aturan serta standar perlombaan resmi. Ia sempat merasa kecil hati, tapi segera menepis perasaan itu. Ia bertekad memanfaatkan setiap waktu: saat istirahat, ia mengamati cara atlet lain memegang senapan dan mengatur posisi; saat ada pelatih yang memberi arahan, ia mendengarkan dengan saksama dan mencatatnya di buku kecil kesayangannya. Kesulitan beradaptasi dengan senapan standar yang berbeda dari alat latihannya dulu, serta cuaca yang panas dan berangin kencang di lokasi perlombaan, tidak membuatnya mundur. Ia justru menjadikan setiap rintangan sebagai ujian untuk membuktikan ketangguhannya.
Hari pertandingan PERBAKIN Provinsi Jambi pun tiba. Di lapangan tembak yang luas, di hadapan para penonton, juri, dan atlet dari berbagai kabupaten/kota se-Provinsi Jambi, Lexza berdiri tegak. Di dadanya tertulis nama Desa Talang Tinggi, Kabupaten Kerinci, dan di hatinya tersimpan semangat yang tak tergoyahkan—semangat anak kampung yang tidak ingin dikalahkan oleh keadaan.
Saat sinyal dimulai, dunia di sekelilingnya seakan hilang. Ia mengatur napas pelan, menstabilkan tangan yang biasa memegang cangkul dan alat pertanian, lalu membidik sasaran dengan fokus penuh. Satu per satu tembakan dilepaskan, tenang dan terukur, meski angin sempat berubah arah dan membuat banyak peserta lain kehilangan poin. Lexza tetap tenang, menerapkan semua yang telah ia latih berbulan-bulan di ladang kampungnya, melawan segala keterbatasan yang ada.
Ketika skor akhir dibacakan, nama Lexza disebut sebagai salah satu peraih nilai tertinggi dan lolos menjadi atlet perwakilan Provinsi Jambi. Tepuk tangan riuh terdengar, dan pemuda dari Talang Tinggi itu tersenyum haru. Ia telah membuktikan bahwa asal-usul dari desa terpencil, fasilitas yang sederhana, dan segala rintangan yang menghadang bukanlah penghalang. Semangat latihan yang tak kenal lelah, ketekunan, dan keberanian bermimpi telah mengantarnya menuju hasil yang gemilang.
Kini, nama Lexza menjadi kebanggaan warga Desa Talang Tinggi dan Kabupaten Kerinci. Kisahnya mengajarkan bahwa di mana pun seseorang lahir, seberat apa pun rintangan yang ada, semangat yang tinggi dan kerja keras yang konsisten akan selalu membuka jalan menuju kesuksesan. Bagi Lexza, kemenangan ini bukan akhir, melainkan awal perjalanan panjang untuk mengukir prestasi lebih tinggi lagi, sambil selalu membawa semangat anak kampung yang pantang menyerah.









