Palu-TransTV45.Com// – Di tengah hiruk-pikuk pemberitaan yang menuding nama Cedric warga negara asing (WNA) asal Prancis, terkait masalah visa dan insiden perahu, terungkap fakta sebaliknya. Ia justru dikenal sebagai sosok yang sangat peduli terhadap kesejahteraan para pekerja di Sanctum Dive Resort di Pulau Una-Una. Selain itu, warga lokal yang ingin menyeberang juga sangat terbantu dengan adanya tarif khusus di luar harga wisatawan.
Kanoana Law Firm (Kanoana Firma Hukum) di Palu, Sulawesi Tengah, melalui Ito Lawputra, S.H., S.I.Kom., M.H., C.Med., CTA selaku kuasa hukum bersama tim, mengungkapkan, “Klien kami adalah orang-orang baik yang selama ini bekerja dengan hati. Mereka tidak pernah main-main dalam memperhatikan hak-hak pekerja lokal.”
Bahkan, menurutnya, warga yang meminta bantuan tak pernah ditolak. “Bahkan yang tidak pernah minta tolong, klien kami tolong. Kami tak perlu menghitung satu per satu atas apa yang klien kami buat dengan hati yang tulus,” ujarnya. Hal itu disampaikan dalam rilis resmi yang diterima awak media, Rabu (12/8).
Gaji di Atas UMK, Bentuk Kepedulian Nyata
Salah satu bukti nyata kepedulian mereka adalah pemberian upah kepada pekerja lokal yang melebihi Upah Minimum Kabupaten (UMK) Tojo Una-Una. Hal ini dilakukan tanpa paksaan, murni atas inisiatif untuk meningkatkan taraf hidup pekerja lokal agar mereka bisa lebih tenang sebagai tulang punggung keluarga.
“Kami sangat sayang dengan warga sekitar di sini. Bukan hanya kata-kata, tapi bukti di lapangan. Gaji mereka kami pastikan layak, bahkan lebih tinggi dari standar,” ujar salah satu kuasa hukum menirukan pernyataan kliennya.
Visa Dinyatakan Sah dan Tidak Bermasalah
Terkait isu visa bermasalah yang mencuat, tim kuasa hukum sudah melakukan pengecekan langsung ke kantor Imigrasi. Hasilnya, visa klien dinyatakan sah dan tidak bermasalah secara administratif.
“Kami sudah kroscek ke Imigrasi. Semua dokumen lengkap dan legal. Jadi tuduhan itu tidak berdasar,” tambahnya.
Akar Masalah Hanya Soal Uang BBM yang Dikait-kaitkan
Kuasa hukum juga meluruskan bahwa permasalahan ini awalnya hanya persoalan kecil, yaitu permintaan uang BBM oleh saudara Umar Tinamba untuk mengantar wisatawan. Namun, masalah sederhana ini kemudian digoreng dan dikait-kaitkan dengan insiden perahu serta isu lainnya.
“Klien kami sangat manusiawi dalam menyikapi insiden perahu. Bahkan klien kami memberikan santunan bagi korban. Sayangnya, media hanya menayangkan satu sisi dan tidak utuh,” sesalnya.
Kuasa hukum juga menyayangkan pemberitaan dan laporan Umar Tinamba terkait dugaan pencemaran nama baik yang hanya menampilkan potongan percakapan tanpa konteks lengkap. Menurutnya, hal itu menyesatkan publik dan merugikan nama baik klien yang selama ini dikenal dermawan dan dekat dengan masyarakat.
“Kami minta kepada media untuk memberitakan secara utuh dan berimbang. Jangan hanya karena sensasi, kemudian mengorbankan seseorang yang sebenarnya tulus membantu warga,” pungkasnya.
Tim kuasa hukum menyatakan kliennya terbuka untuk berdialog dan memberikan klarifikasi lebih lanjut jika diperlukan. Mereka berharap publik tidak terprovokasi oleh tuduhan-tuduhan yang belum terbukti kebenarannya. Cedric bukanlah sosok yang seperti digambarkan dalam pemberitaan sepihak. Ia adalah pihak yang peduli, patuh hukum, dan terbukti memperhatikan kesejahteraan warga Tojo Una-Una.




