Merangkai Berbagai Kisah di Tengah Wabah COVID-19

Breaking News700 Dilihat
Maria Giashinta Morestika Angung, Mahasiswi Unika St. Paulus Ruteng. ( Foto : Isth)

RUTENG| Suasana pagi ini tampaknya mulai sepi, kegiatan banyak terhenti. Ya, sejak munculnya virus corona atau Covid-19 di Indonesia, berbagai daerah di seluruh pelosok negeri mulai menerapkan peraturan untuk menggalakkan gerakan di rumah saja. Banyak kegiatan yang diliburkan, baik swasta maupun instansi pemerintah menggalakkan work from home untuk pekerjanya. hal tersebut membuat ruang gerak masyarakat semakin berkurang. Semua kegiatan dilakukan secara daring. Nyatanya, pandemi ini bukan hanya menggerogoti manusia saja, sektor ekonomi hingga pendidikan juga ikut merasakan dampaknya.

Udara yang berembus hari ini terasa sangat lembut menyentuh kulit. Saat wabah mulai mendunia dan kegiatan banyak diberhentikan, aku melihat berbagai berita mengenai kualitas udara di dunia semakin baik. Di tengah terpaan wabah, “mungkinkah” ini waktu bagi alam berusaha untuk memulihkan diri?

Waktu libur kian diperpanjang dan hari berganti hari, waktu libur berubah menjadi untaian untuk memulai beragam kisah berharga yang tak akan dapat dirasakan di lain hari. Di tengah situasi pandemi yang mulai banyak menggerogoti, banyak kegiatan positif yang dapat dilakukan saat di rumah. Gerakan di rumah saja bukanlah waktu untuk bersantai dan merebahkan diri. Aku, sebagai penulis dalam cerpen ini, yang masih belajar dan mengasah diri, juga bukan dapat dikatakan penulis yang sangat ahli di bidang literasi, gerakan stay at home ini membuat ide.

Ide cemerlang pun muncul seketika. Pandemi membuatku menjadi seorang penulis yang lebih rajin dan teliti. Di sela sibuknya mengisi waktu bersama keluarga di kala libur, aku mulai produktif untuk menulis cerita singkat (cerpen). Cerpen dirangkai saat menjelang waktu tidur. Ide cerita muncul dari berbagai aktivitas yang aku lakukan bersama keluarga, seperti berkebun, mengajari adik belajar, dan membantu ibu memasak, dan sekolah online (dalam jaringan).

Setiap harinya aku menargetkan diri untuk menulis 50-100 kata mengenai berbagai kisah yang aku alami saat pandemi. Untuk menunjang kualitas tulisan, aku membaca novel favorit dan beberapa referensi lain. Rangkaian cerita dituangkan dalam bentuk cerpen dengan berbagai macam judul. Seperti pada tanggal 21 April ini, aku membuat judul “Berharga” untuk salah satu cerpenku. Selama libur, aku merasakan intensitas waktu bersama keluarga sangat bernilai bagiku. Semua kegiatan kami lakukan bersama-sama, tanpa tahu waktu berlalu dengan cepat. Memang benar, takala semua kegiatan yang terkesan biasa saja, terlihat sangat bermakna ketika disusun dalam sebuah cerita.

Untuk teman-teman yang menyukai bidang literasi, manfaatkan diri untuk produktif menghasilkan tulisan pada waktu seperti ini dan mulai melatih diri, walaupun bukan dalam bentuk jumlah yang banyak. Namun, karya itu dapat menjadi batu loncatan untuk menghasilkan mahakarya yang bermanfaat bagi pembacanya di masa akan datang.

Pandemi dengan situasi yang genting seperti ini, aktivitas yang bernilai positif dapat digalakkan untuk membentuk pribadi yang produktif. Tidak boleh terpuruk dengan kondisi, manfaatkan sisi positif dari situasi untuk menumbuhkan jati diri.

Penulis adalah, Mahasiswi Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng,
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *