
Tapung Hilir, (Kampar) TransTV45.com ||Warga RT 03 RW 01 Desa Kota Bangun mengeluhkan dugaan pencemaran lingkungan yang bersumber dari aktivitas dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) milik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Bangun.
Keluhan warga bukan tanpa alasan. Aroma menyengat yang diduga berasal dari kolam penampungan akhir limbah dapur disebut telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir dan semakin mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar.
Bau busuk yang tercium hampir setiap hari membuat warga merasa resah. Kondisi itu diperparah dengan meningkatnya populasi nyamuk di sekitar permukiman yang diduga berasal dari kolam limbah dapur tersebut.
“Sekarang nyamuk makin banyak. Bau limbah juga sangat menyengat, apalagi kalau siang dan malam hari,” ungkap salah seorang warga kepada tim Redaksi
Warga menduga kolam penampungan limbah yang berada di sisi dapur MBG tersebut menjadi sarang jentik nyamuk akibat pengelolaan limbah yang tidak maksimal.
Kekecewaan masyarakat semakin memuncak karena persoalan tersebut disebut sudah berlangsung cukup lama tanpa adanya penanganan serius dari pihak pengelola dapur SPPG Kota Bangun.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, warga sebelumnya telah menyampaikan keluhan tersebut kepada Ketua RT 03. Selanjutnya, Ketua RT dikabarkan sudah pernah mengingatkan langsung pihak mitra SPPG yang diketahui bernama Ilyas Pakpahan agar segera melakukan pembenahan terhadap sistem pengelolaan limbah dapur.
Namun hingga kini, warga menilai belum ada perubahan signifikan di lapangan.
Tak hanya persoalan limbah, warga lainnya bernama Paiman yang rumahnya berada tepat di belakang dapur MBG juga mengeluhkan suara bising yang berasal dari blower dapur.
Menurutnya, suara mesin blower tersebut sangat mengganggu aktivitas dan waktu istirahat keluarganya, terlebih orang tua di rumah tersebut sedang dalam kondisi sakit.
“Suara blower sangat keras, siang malam terdengar. Orang tua saya sedang sakit jadi sangat terganggu,” ujar Paiman.
Ironisnya, dugaan buruknya pengelolaan limbah itu semakin menguat setelah tim media menerima rekaman video yang memperlihatkan aktivitas pembuangan limbah dapur yang diduga tidak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Dalam video tersebut, terlihat sejumlah relawan bersama pihak mitra diduga sengaja membuang air limbah yang masih keruh dan bercampur lemak menggunakan ember langsung ke kolam penampungan akhir tanpa melalui proses sterilisasi ataupun pengolahan sebagaimana SOP IPAL yang semestinya diterapkan.
Sumber internal yang enggan disebutkan namanya juga mengungkapkan adanya dugaan penyumbatan pada sistem IPAL dapur SPPG Kota Bangun.
Akibat kondisi tersebut, limbah dapur disebut harus dikuras bahkan disedot menggunakan mesin sebelum akhirnya dibuang ke lokasi tertentu secara darurat.
Situasi ini memicu kekhawatiran masyarakat akan dampak lingkungan dan kesehatan apabila pengelolaan limbah terus dilakukan secara asal-asalan.
Warga mendesak pihak terkait, mulai dari pemerintah daerah, Dinas Lingkungan Hidup, hingga Badan Gizi Nasional (BGN), agar segera turun tangan melakukan pemeriksaan langsung terhadap sistem pengelolaan limbah di dapur MBG SPPG Kota Bangun.
Masyarakat juga meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap operasional dapur tersebut, termasuk audit terhadap sistem IPAL dan dampaknya terhadap lingkungan sekitar.
“Jangan sampai program yang seharusnya baik untuk masyarakat justru menimbulkan masalah baru bagi warga sekitar,” tegas salah seorang warga.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola SPPG Kota Bangun maupun mitra terkait belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan warga dan dugaan pelanggaran SOP pengelolaan limbah tersebut. Tim Media mengaku telah berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak SPPG maupun pihak mitra, namun tidak mendapatkan tanggapan. Sikap tertutup dan minimnya respons dari pihak terkait dinilai semakin memunculkan tanda tanya publik terhadap pengelolaan limbah dapur MBG tersebut.**
Laporan: Tim Redaksi









