Sambas, Kalbar – TransTV45.com || Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas tengah menyelidiki dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami belasan siswa sekolah dasar di Kecamatan Selakau, Kabupaten Sambas, Kamis (21/5/2026).
Peristiwa tersebut terjadi pada siswa di SDN 06 Sungai Rusa dan SDN 08 Sungai Daun. Sebanyak 15 siswa dilaporkan mengalami keluhan gangguan sistem pencernaan seperti nyeri perut, mual, muntah, badan lemas, dan pusing kepala usai mengonsumsi makanan program MBG.
Keterangan itu disampaikan oleh dr. Ganjar Eko Prabowo.,M.M, dalam laporan resmi yang diterima pada Kamis siang.
Menurut dr. Ganjar, sekitar pukul 10.30 WIB dirinya menerima laporan dari Kepala Puskesmas Selakau mengenai sejumlah siswa yang datang ke puskesmas dengan diantar oleh guru masing-masing.
“Seluruh siswa langsung mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur yang berlaku dan kondisi mereka terus dipantau,” ujarnya.
Berdasarkan hasil wawancara petugas kesehatan terhadap guru dan siswa, diketahui bahwa sekitar dua jam sebelum mengalami gejala, para siswa telah mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menu makanan yang dikonsumsi terdiri dari nasi putih, ayam goreng tepung, tempe saus kecap, tumis kuning timun dan wortel, serta buah pisang.
Makanan tersebut diketahui berasal dari SPPG Sambas Selakau Sungai Nyirih yang beralamat di Jalan Raya Desa Sungai Daun, Kecamatan Selakau.

Sekitar pukul 15.30 WIB, para siswa yang sebelumnya menjalani penanganan medis dilaporkan telah menunjukkan kondisi membaik dan diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.
Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan oleh pihak Puskesmas Selakau, sekolah, Polsek Selakau, Kecamatan Selakau, dan Loka POM Sambas.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, petugas surveilans Puskesmas bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas langsung melakukan penyelidikan epidemiologi serta pengamanan sampel makanan sesuai prosedur.
Pemeriksaan dilakukan baik di lingkungan sekolah maupun di lokasi pengolahan makanan yang berada di SPPG Sungai Daun.
“Sampel makanan saat ini sedang dalam proses pengiriman ke Balai Besar POM Pontianak untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium,” kata dr. Ganjar.
Berdasarkan hasil investigasi sementara, dugaan awal kasus gangguan pencernaan tersebut mengarah pada makanan dari Program MBG. Namun, kepastian penyebab masih menunggu hasil resmi laboratorium dari Balai Besar POM Pontianak yang diperkirakan keluar dalam waktu sekitar 14 hari.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas juga mengimbau seluruh pihak untuk tetap tenang dan tidak berspekulasi sebelum hasil laboratorium diterbitkan secara resmi.
Selain itu, pihak berwenang diharapkan dapat melakukan pemulihan psikologis terhadap siswa dan orang tua, sementara pihak penyedia makanan diminta lebih ketat menerapkan SOP keamanan pangan dalam proses pengolahan makanan MBG.
“Monitoring berkala oleh petugas kesehatan, BPOM, dan lintas sektor harus terus dilakukan demi menjamin keamanan pangan bagi siswa,” tutupnya.
(Sumber:Wardi)
(Editor:Suparman)





